Close
Close Language Selection
Health Articles

Mengenal Bedah Bariatrik, Solusi Obesitas

Minggu, 16 Peb 2020
Mengenal Bedah Bariatrik, Solusi Obesitas

Dengan memodifikasi jaringan organ pencernaan, bariatrik dapat membantu mengatasi obesitas dengan minim risiko.

Karena tuntutan pekerjaan, tidak jarang seseorang harus duduk seharian di depan komputer. Pekerjaan yang menumpuk memaksa untuk lembur. Waktu berolahraga menjadi tersita. Ditambah dengan perkembangan teknologi yang semakin membuat terlena. Alhasil, aktivitas fisik menjadi sangat minim. Salah satu risiko yang mengintai adalah obesitas.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penderita obesitas berusia di atas 18 tahun di Indonesia mencapai 21,8 persen, meningkat tajam dibanding tahun 2013 yang mencapai 14,8 persen. Padahal, menurut sejumlah penelitian, obesitas terkait erat dengan peningkatan risiko beragam penyakit tak menular. Karenanya, mencegah atau mengatasi obesitas dapat menurunkan jumlah penderita penyakit tak menular.

Seseorang dikatakan obesitas jika memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) lebih dari 23 (bila dihitung dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan yang dikuadratkan). Tidak hanya soal penampilan dan keterbatasan gerak, obesitas juga memiliki dampak lain, yaitu:

  • Mengurangi harapan hidup (hingga 10 tahun)
  • Kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi
  • Diabetes mellitus
  • Hipertensi
  • Artritis ekstrimitas bawah
  • Depresi
  • Kanker
  • Infertilitas

Perkembangan teknologi di dunia kesehatan memungkinkan dilakukannya berbagai tindakan untuk mengatasi obesitas, salah satunya dengan bedah bariatrik. Tindakan ini dapat dilakukan apabila pasien sudah dikategorikan sebagai obesitas morbid dan memiliki IMT yang tinggi. Selain diperuntukkan bagi para pasien obesitas morbid, bedah bariatrik juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pasien yang memiliki IMT sedang, namun mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit diabetes dan hipertensi.

Bagi pasien obesitas morbid yang membutuhkan penurunan berat badan secara ekstrem, bariatrik dapat menurunkan berat badan dengan lebih cepat dan relatif menetap. Dengan menggunakan teknik minimal invasive laparoscopy, pasien akan merasakan nyeri yang lebih minimal, serta risiko komplikasi tindakan yang lebih rendah, sehingga masa rawat inap di rumah sakit menjadi lebih singkat.

Saat ini, dikenal beberapa jenis tindakan bariatrik. Tetapi dari semua itu, terdapat tiga jenis bariatrik yang sering dilakukan:

  1. Sleeve gastrectomy: pemotongan lambung pasien sekitar 85 persen sehingga didapatkan ukuran lambung yang lebih kecil
  2. Bypass lambung Roux en Y: penggabungan bagian atas lambung dengan usus kecil sehingga makanan tidak lagi melewati lambung dan tidak banyak kalori makanan yang diserap
  3. Mini gastric bypass: teknik bypass yang lebih sederhana dengan keamanan lebih tinggi namun efektivitas yang melebihi dari Roux en Y Gastric

Tahukah Anda? 

  • Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan obesitas sebagai suatu penyakit
  • Bariatrik bukanlah bedah kosmetik. Bariatrik bertujuan mengobati pasien obesitas dan penyakit penyertanya

Sebelum dilakukan tindakan bariatrik, seorang pasien akan menjalani berbagai pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan laboratorium, jantung, hingga USG (ultrasonografi) dengan teropong (endoskopi) untuk melihat kondisi lambung. Pemeriksaan-pemeriksaan ini diperlukan untuk menentukan layak-tidaknya seorang pasien menjalani bariatrik serta jenis bariatrik yang sesuai untuk pasien tersebut.

Selain itu, pasien pun perlu melakukan diet rendah kalori selama sekitar 10 hari dan berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik dan dokter spesialis penyakit dalam sebelum dilakukan tindakan.

Meski mampu menurunkan bobot tubuh dengan cepat, bedah bariatrik bukanlah peluru emas, tindakan ini hanya sebagai alat untuk mengatasi obesitas. Faktor utama keberhasilan bariatrik adalah komitmen dan konsistensi yang kuat dari pasien untuk mengubah gaya hidup mereka seumur hidup. Karenanya, pasien harus menaati berbagai imbauan yang disampaikan, seperti hanya minum air mineral atau teh selama dua sampai tiga hari pertama setelah tindakan, serta baru dapat mengonsumsi makanan padat setelah satu bulan. Dengan disiplin menaati berbagai imbauan, diharapkan kelebihan berat badan pasien dapat berkurang sekitar 60 hingga 80 persen dalam enam sampai 12 bulan sejak tindakan.

Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B.SubBDig

Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Selasa, 24 Mar 2020

Pentingnya Vaksin Influenza

Read More
Health Articles Jumat, 21 Mei 2021

Wanita Lebih Rentan terhadap Batu Empedu

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor