Close
Close Language Selection
Health Articles

Gangguan Berkemih pada Geriatri

Jumat, 27 Des 2019
Gangguan Berkemih pada Geriatri

Gangguan saat buang air kecil (BAK) sering kali dialami orang berusia lanjut (geriatri). Meski terjadi penurunan fungsi organ seiring pertambahan usia (degenerasi), gangguan BAK bukanlah hal normal dan ada terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. 

Yang dimaksud gangguan buang air kecil adalah keluarnya urin tanpa disadari oleh orang tersebut (inkontinensia urin). Angka kejadian gangguan ini meningkat seiring bertambahnya usia. Pada pria, angka kejadiannya meningkat dari 4,8 persen pada usia 19 – 44 tahun; 11,2 persen pada 45 – 64 tahun; hingga 21,1 persen pada lebih dari 65 tahun. Sementara pada wanita berusia lebih dari 65 tahun, angka kejadiannya mencapai 50 persen. Sayangnya, kebanyakan pasien tidak segera memeriksakan diri ke dokter sampai benar-benar menimbulkan gejala yang serius.

Apabila dibiarkan berlarut-larut, gangguan ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti:

  • Tiba-tiba tidak bisa BAK (retensi urin);
  • Urosepsis (kondisi infeksi yang mengancam jiwa);
  • Batu di kandung kemih;
  • Kerusakan kandung kemih;
  • Sumbatan saluran kencing;
  • Penurunan fungsi ginjal; dan
  • Iritasi kulit dan dermatitis.

Gangguan berkemih pada pria
Pada pria, kesulitan berkemih dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Gejala iritatif
    Urgency: Keinginan mendadak untuk berkemih yang tidak bisa ditahan
    Daytime frequency: Peningkatan frekuensi berkemih pada siang hari
    Nokturia: Sering terbangun di malam hari untuk berkemih
    Inkontinensia: Mengompol sebelum sampai ke toilet 
  2. Gejala berkemih (voiding)
    Slow stream: Pancaran urin yang lemah
    Hesitancy: Kesulitan untuk mulai berkemih
    Intermittency: Aliran urin yang terputus-putus
    Straining to void: Mengejan saat berkemih
    Terminal dribble: Urin menetes-netes pada fase akhir berkemih
  3. Faktor Penyebab:
    Pembesaran kelenjar prostat (benign prostate hypertrophy/BPH)
    Penyempitan saluran uretra
    Kandung kemih yang terlalu aktif (overactive bladder/OAB)
    Penyebab lainnya: diabetes mellitus (DM), infeksi saluran kemih (ISK), batu kandung kemih, kanker prostat, kanker kandung kemih, kelainan neurologis, konstipasi, dan depresi.

Gangguan berkemih pada wanita
Sementara pada wanita, gejala yang paling sering terjadi adalah:

  • Rasa nyeri atau terbakar saat BAK;
  • Nyeri perut bagian bawah;
  • Frekuensi buang air kecil meningkat;
  • Perasaan mendesak untuk BAK (urgensi);
  • Mengompol saat batuk, bersin, atau beraktivitas fisik;
  • Kehilangan kontrol kandung kemih;
  • Nokturia;
  • Rasa tidak tuntas setelah BAK atau meneteskan urin setelah BAK selesai; dan
  • Pancaran urin lemah.

Faktor Penyebab
Berbagai faktor risiko gangguan BAK pada wanita antara lain: usia lanjut, obesitas, paritas (jumlah kelahiran anak), cara persalinan, menopause, riwayat keluarga dengan gangguan BAK, merokok, mengonsumsi minuman yang mengandung kafein dan alkohol, DM, stroke, konstipasi, depresi, dan riwayat operasi pengangkatan rahim atau radiasi.

Agar tercegah dari gangguan BAK
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari gangguan BAK:

  • Modifikasi gaya hidup dengan menghindari konsumsi minumal beralkohol, kafein (kopi, teh), soda, makanan pedas atau asam, dan rokok
  • Menurunkan berat badan
  • Minum cairan dalam jumlah sedikit tapi sering pada interval yang teratur sepanjang hari. Namun, jangan kurangi jumlah total cairan hingga kurang dari 2 – 2,5 liter per hari
  • Menghindari konstipasi dengan cara meningkatkan asupan serat
  • Berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin menganjurkan terapi obat, pembedahan, atau non-pembedahan— tergantung pada tingkat keparahan dan penyebab gangguan BAK. Terapi non-pembedahan antara lain behavioral therapy, biofeedback, latihan otot dasar panggul (Kegel), dan stimulasi elektrik otot dasar panggul. Pemeriksaan evaluasi yang mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, antara lain laboratorium, ultrasonografi (USG), uroflowmetri, urodinamik, CT-scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Bijak menggunakan popok dewasa
Popok dewasa berguna bagi orang dengan gangguan BAK karena dapat membuat individu tersebut merasa nyaman dan tetap aktif, berada dalam kondisi higienis, dan percaya diri untuk bersosialisasi. Popok dewasa juga dapat mengurangi komplikasi antara lain ISK dan iritasi kulit yang lembap akibat mengompol (dermatitis). Namun, perlu diingat bahwa tetap diperlukan pendekatan terapi lain sebelum menggunakan popok dewasa untuk jangka panjang.

dr. Doddy Hami Seno, Sp.U

Spesialis Bedah Urologi
RS Pondok Indah - Pondok Indah
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 28 Mei 2015

Komunikasi, Solusi Atasi Gangguan Libido

Read More
Health Articles Senin, 25 Peb 2019

Sayatan Kecil pada Bedah Pencernaan

Read More
Health Articles Senin, 18 Peb 2019

Olah Tubuh di Masa Kehamilan

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor