Close
Close Language Selection
Health Articles

Endometriosis, si Penyebab Nyeri Hebat Saat Menstruasi

Jumat, 02 Jul 2021
Endometriosis, si Penyebab Nyeri Hebat Saat Menstruasi

Periode menstruasi memang seringkali terasa tidak nyaman. Namun, bagi sebagian wanita, periode ini bukan hanya tidak nyaman saja, melainkan juga sangat menyiksa karena rasa nyeri yang dahsyat. Apa penyebabnya dan bagaimana penanganannya?

Nyeri haid adalah nyeri atau kram di area perut yang dialami pada saat menjelang atau selama haid. Sebagian besar nyeri haid disebabkan oleh otot-otot rahim yang berkontraksi. Nyeri haid dikatakan tidak normal apabila bertambah berat dan menyebabkan seorang wanita tidak dapat beraktivitas normal, atau nyeri tidak membaik bahkan setelah mengonsumsi obat nyeri.

Nyeri haid yang tidak normal ini sering disebabkan oleh endometriosis. Pada endometriosis, jaringan yang membentuk lapisan dalam rahim juga tumbuh di luar rahim. Jaringan tersebut bisa tumbuh pada organ lain di dalam panggul atau perut, yang kemudian dapat menyebabkan perdarahan, infeksi, dan nyeri panggul. Nyeri akibat endometriosis dapat berupa rasa sakit, kram, dan perasaan terbakar, yang dapat dirasakan cukup ringan, atau bahkan sangat parah hingga menurunkan kualitas hidup

Banyak wanita yang menganggap remeh nyeri haid ini. Hal itulah yang kemudian menyebabkan penanganan terhadap endometriosis menjadi lebih rumit. Padahal, jika telah terdeteksi dan ditangani sejak awal, endometriosis yang masih ringan dan belum menyebar ke organ lain, tentunya dapat ditangani lebih mudah.

Gejala dan tahapan endometriosis
Selain rasa nyeri hebat ketika menstruasi, wanita dengan endometriosis kerap merasakan rasa nyeri saat berhubungan seksual. Meskipun tidak umum, beberapa wanita mungkin juga mengalami nyeri saat buang air kecil, buang air besar, diare, mual, muntah, dan perut kembung.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi biasanya akan menggunakan beberapa modalitas pemeriksaan untuk memastikan diagnosis endometriosis, antara lain:

  • Pemeriksaan panggul
  • Pemeriksaan ultrasonografi
  • MRI
  • Laparoskopi

Setelah pemeriksaan dilakukan, barulah dokter dapat menentukan tahapan endometriosis. Identifikasi tahapan endometriosis ini sangat penting dan diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat.

Berikut ini beberapa tahapan endometriosis dilihat dari tingkat keparahan kondisinya:

  • Tahap 1 endometriosis minimal. Muncul jaringan endometrium yang kecil dan dangkal di indung telur. Peradangan juga dapat terjadi di sekitar rongga panggul. Adanya jaringan ini menyebabkan rasa sakit dan disfungsi organ
  • Tahap 2 endometriosis ringan. Ada jaringan endometrium yang kecil dan dangkal di indung telur dan dinding panggul. Kemungkinan dapat menyebabkan iritasi selama ovulasi dan atau nyeri panggul
  • Tahap 3 endometriosis menengah. Muncul beberapa jaringan endometrium yang cukup dalam di indung telur. Pada tahap ini disebut sebagai kista cokelat, karena setelah beberapa waktu, darah di dalam kista menjadi berwarna merah dan cokelat tua. Apabila kista pecah, dapat menyebabkan sakit perut dan peradangan ekstrem di sekitar panggul
  • Tahap 4 endometriosis berat. Pada tahap ini, jaringan endometrium, kista, dan perlekatan terjadi cukup parah. Endometriosis dapat tumbuh sangat besar dan ditemukan di indung telur, dinding panggul, saluran indung telur, dan usus.

Kesuburan dan endometriosis
Tak dapat dipungkiri, endometriosis dapat menjadi penyebab gangguan kesuburan. Kelainan anatomi dan perlekatan yang disebabkan oleh endometriosis (terutama pada kasus sedang hingga berat) mengurangi peluang terjadinya kehamilan alami. Hal ini terjadi akibat adanya lebih banyak perlekatan pada ovarium yang dapat mengganggu pelepasan sel telur, sehingga sel telur tidak dapat mencapai saluran telur (tuba). 

Namun, bagi wanita dengan endometriosis minimal, peluang terjadinya kehamilan secara alami masih cukup tinggi. Apalagi, jika didukung kondisi sperma suami yang sehat dan optimal.

Penanganan endometriosis
Endometriosis memang tidak dapat disembuhkan secara menyeluruh dan hanya dapat ditangani sesuai dengan tahapannya. Penanganan endometriosis dapat dilakukan dengan konsumsi obat pereda nyeri, obat hormonal, penyesuaian gaya hidup, ataupun tindakan pembedahan pada kasus yang sudah berat. 

Penyesuaian gaya hidup dapat dimulai dari pemilihan asupan makanan yang tepat. Ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita endometriosis, seperti: makanan olahan, produk olahan dari susu sapi (dairy product), serta makanan yang mengandung gluten dan kedelai. Penderita endometriosis juga disarankan menghentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol, serta mengurangi asupan kafein. Sebaiknya, perbanyak konsumsi makanan berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, makanan yang kaya omega 3 seperti ikan kembung dan ikan salmon, serta makanan yang mengandung magnesium tinggi, seperti alpukat, pisang, dan sayuran hijau.

Penanganan endometriosis dengan tindakan bedah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni:

  • Bedah ablasi, yakni ‘membakar’ permukaan endometriosis menggunakan laser panas. Namun, karena ‘pembakaran’ ini hanya dilakukan di permukaan dan meninggalkan akarnya, maka jaringan endometrium sangat mungkin dapat muncul kembali. Selain itu, tindakan ini juga memiliki risiko lebih tinggi untuk merusak jaringan yang dibakar. Meski demikian, bedah ablasi membutuhkan waktu pemulihan yang cukup singkat, dan banyak dokter yang dapat melakukan tindakan ini
  • Bedah eksisi, yakni ‘menyekop’ jaringan endometrium sampai ke akarnya. Tindakan bedah ini dilakukan dengan alat bedah seperti laser dengan metode laparoskopi. Jaringan endometrium yang diangkat dapat diperiksa patologisnya di laboratorium. Namun demikian, tindakan ini membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama dan tidak semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Dari kedua teknik tindakan bedah tersebut, teknik eksisi biasanya lebih dianjurkan untuk dilakukan karena memiliki angka kekambuhan yang lebih rendah. Walaupun demikian, endometriosis masih dapat kambuh kembali meski telah dilakukan pembedahan. Maka itu, wanita dengan endometriosis harus rutin berkonsultasi ke dokter. Terapi pengobatan hormonal jangka panjang dapat mengurangi kekambuhan setelah tindakan pembedahan.

Di sisi lain, tindakan pembedahan yang dilakukan berkali-kali karena kekambuhan endometriosis juga sebaiknya dihindari, karena setiap kali operasi endometriosis (terutama untuk kasus kista) menimbulkan penurunan cadangan ovarium. Karenanya, keputusan tindakan operasi pada endometriosis harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan waktu yang tepat. Penanganan endometriosis membutuhkan perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan fungsi reproduksi (rencana hamil).

Endometriosis memang tidak dapat disembuhkan karena selalu ada risiko terjadinya kekambuhan. Namun, deteksi dan diagnosis secara dini sangatlah penting untuk memudahkan penanganan, serta mencegah endometriosis berkembang ke organ lain di dalam tubuh.

dr. Moh. Luky Satria Syahbana Marwali, Sp. OG, Subsp. FER

Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi
RS Pondok Indah - Pondok Indah

HEALTHY CORNER More Health Articles


Health Articles Kamis, 26 Apr 2018

Yuk, Berhenti Merokok!

Read More
Health Articles Rabu, 05 Des 2018

Teknologi Terkini untuk Jantung Sehat

Read More
Health Articles Kamis, 21 Jul 2022

Cegah Berat Badan Yo-Yo Setelah Lebaran

Read More
Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor