Berolahraga di Tengah Kepadatan Aktivitas

Kamis, 07 Maret 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Padatnya aktivitas harian sebenarnya tidak menjadi kendala untuk tetap memenuhi kebutuhan akan olahraga yang baik bagi tubuh

Berolahraga di Tengah Kepadatan Aktivitas

Berbicara mengenai olahraga, saya jadi teringat pengalaman saya ketika menjalani pendidikan Beijing, Cina. Berangkat, pulang, dan bepergian ke manapun selalu berjalan kaki, naik-turun MRT dan bus.


Alhasil, meski porsi makan tidak terkontrol, berat badan turun 10 kilogram dalam satu tahun. Kembali ke Jakarta, dengan porsi makan yang lebih terkontrol, tidak terasa berat badan naik kembali 10 kilogram dalam satu tahun. Nah, di sinilah saya menyadari pentingnya olahraga dalam keseharian kita.


Sebenarnya, apa manfaat olahraga bagi tubuh dan bagaimana menyisihkan waktu di tengah kesibukan? Olahraga terbukti mampu membantu menurunkan risiko timbulnya berbagai penyakit, terutama penyakit jantung koroner dan stroke, menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar kolesterol, memperbaiki kadar gula darah, dan yang tidak kalah penting, mengurangi stres dan keluhan pegal-pegal yang sering dirasakan pekerja kantoran.


Pertanyaan berikutnya, seberapa sering kita harus berolahraga? Menurut be­­berapa rekomendasi internasional, diharapkan kita menghabiskan waktu 150 menit setiap minggunya atau setidaknya membakar 1.000 – 1.500 kalori setiap minggu.


Artinya, jika berolahraga tiga kali seminggu, sedikitnya waktu yang harus disisihkan sekitar satu jam atau sedikitnya 350 kalori setiap kali berolahraga. Target demikian cukup sulit untuk orang yang bekerja dari pagi sampai malam.


Nah, bagaimana cara mengatasi masalah ini?


Beberapa pakar kesehatan menawarkan solusi cerdas untuk orang-orang sibuk yang ingin berolahraga, di antaranya menjalani 10 ribu langkah setiap hari. Tetapi di Jakarta, hal ini sangat sulit, mengingat masih sedikit jalur khusus bagi pejalan kaki.


Karenanya, beberapa cara patut dicoba demi menjaga kesehatan di tengah kesibukan.


  • Disarankan bangun lebih pagi, luangkan waktu 10 – 15 menit untuk mulai berolahraga sebelum ke kantor. Lari di kompleks rumah, mesin treadmill, atau hanya lari di tempat–boleh disertai push up atau sit up.
  • Jika memungkinkan, mulai gunakan transportasi umum yang nyaman, seperti TransJakarta atau MRT dan usahakan untuk berdiri (tentu saja jika Anda tidak memiliki masalah kesehatan yang menjadi penghalang).
  • Tiba di kantor, usahakan hindari penggunaan lift dan lebih memilih menggunakan tangga. Jika lantai kantor terlalu tinggi, bisa dengan kombinasi lift dan tangga sesuai kemampuan.
  • Ketika menerima panggilan ponsel, hindari duduk santai. Usahakan berdiri dan jalan di sekitar ruangan kerja.
  • Sepulang kantor, tetap gunakan transportasi umum jika memungkinkan.
  • Sesampai di rumah, luangkan lagi 10 – 15 menit untuk berolahraga seperti di pagi hari.


Walau begitu, tentu saja disarankan tetap meluangkan waktu ekstra untuk berolahraga. Memiliki partner olahraga juga menjadi pilihan yang menarik, karena bisa membuat motivasi berolahraga menjadi tinggi.


Namun, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan, yaitu jadwal makan yang teratur. Rekomendasi dari para ahli gizi, makan pagi, siang, dan malam dengan jadwal yang ketat adalah hal yang wajib.


Terkadang kita beranggapan bahwa makan sekali sehari dapat menurunkan berat badan, tapi kenyataannya hal itu malah membuat metabolisme tubuh menjadi lambat. Alih-alih menurunkan berat badan, yang terjadi malah sebaliknya—apalagi ditambah dengan semakin banyaknya camilan yang dikonsumsi.


Camilan yang disarankan ketika merasa lapar juga harus dibatasi pilihannya, seperti buah-buahan atau camilan gandum. Hal kedua adalah waktu istirahat atau tidur malam. Jadwal tidur dan kecukupannya juga harus menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari hal-hal lain yang telah disebutkan.


Rekomendasi ini tentu saja berlaku untuk populasi umum yang sebagian besar berada pada kondisi sehat. Sedangkan untuk sebagian yang sudah memiliki masalah kesehatan, sebelum berolahraga diharuskan berkonsultasi dulu kepada dokter untuk menghindari dampak yang mungkin terjadi ketika berolahraga.


Pada akhirnya, semua bergantung pada diri sendiri, apakah ingin mendapatkan tubuh yang sehat atau tetap dengan kebiasaan yang berisiko mengidap berbagai penyakit di masa tua nanti.