Close
Close Language Selection
Health Articles

Agar Produksi ASI Lancar dan Optimal

Jumat, 02 Jul 2021
Agar Produksi ASI Lancar dan Optimal

Menyusui dan meng-ASI-hi membutuhkan upaya menyeluruh dari ibu dan juga lingkungan sekitarnya. Semua dilakukan demi suksesnya pemberian ASI eksklusif bagi si kecil. Artikel ini membahas beberapa hambatan dalam menyusui dan bagaimana cara menanganinya. Yuk, baca sampai selesai untuk mengetahui tipsnya! 

Tahukah Anda bahwa ASI telah mulai terbentuk dalam tubuh ibu sejak usia kehamilan 4 bulan? Tetapi, proses keluarnya ASI dihambat oleh adanya hormon kehamilan sehingga ASI tidak keluar sebelum waktunya. Ketika bayi dilahirkan dan plasenta lepas dari rahim ibu, saat itulah proses lactogenesis atau pembentukan ASI yang kedua dimulai oleh tubuh ibu. Kedua proses pembentukan ASI ini tak luput dari gangguan, baik dari faktor ibu, faktor bayi, maupun adanya gangguan pada proses transfer ASI dari ibu ke bayi. 

Faktor penghambat produksi ASI dari ibu
a.    Berat badan berlebih dan riwayat diabetes
Ibu dengan berat badan berlebih/overweight, obesitas sebelum hamil, atau ibu hamil dengan kenaikan berat badan berlebihan selama hamil, memiliki risiko mengalami kurangnya pasokan ASI. Hal ini juga ditemukan pada ibu dengan resistensi insulin yang ditandai dengan gangguan gula darah dan lingkar perut yang besar, atau pada ibu yang memiliki riwayat gula darah tinggi/diabetes melitus. 

b.    Kondisi kesehatan lain, misalnya PCOS
Kondisi kesehatan ibu seperti gangguan tiroid, kista ovarium, polycystic ovary syndrome (PCOS), hipertensi, atau anemia pada ibu juga merupakan faktor risiko lain yang menghambat keluarnya ASI.

c.    Masalah pada kesehatan dan anatomi payudara
Hal lain seperti satu atau kedua payudara yang tidak berkembang dengan baik sejak masa pubertas atau wanita yang sudah menjalani operasi payudara juga memiliki risiko mengalami hambatan produksi ASI. Oleh karena itu, apabila seorang wanita akan menjalani operasi payudara, baik karena suatu kondisi kesehatan atau melakukan implan payudara, komunikasikan pada dokter jika masih tetap ingin menyusui suatu hari nanti. 

Sebelum melahirkan, ibu hamil juga perlu mempersiapkan diri untuk mengetahui tentang ASI dan seluk beluk menyusui. Ada baiknya, memeriksakan kondisi payudara pada trimester akhir kehamilan. Bentuk anatomi payudara seperti puting yang datar atau tenggelam dapat menimbulkan kesulitan menyusui jika tidak diatasi dan diantisipasi sejak awal. Kondisi puting payudara seperti ini dapat diatasi dengan memijat ringan dan menarik puting secara manual atau dengan alat bantu, sehingga ketika bayi menyusu, bayi dapat mengisap payudara ibu dengan baik. Tindakan ini dapat dilakukan mulai usia kehamilan 37 minggu. Hati-hati, penarikan puting pada usia kehamilan yang lebih muda berisiko menimbulkan kontraksi rahim. Sebaiknya, berkonsultasilah dengan konselor laktasi atau tenaga kesehatan yang kompeten untuk membantu ibu sejak hamil hingga menyusui.

d.    Penurunan berat badan yang drastis
Ibu yang mengalami penurunan berat badan secara drastis dalam waktu yang singkat juga mengalami risiko untuk mengalami kesulitan dalam produksi ASI. Sebuah literatur menyebutkan bahwa konsumsi makanan ibu menyusui kurang dari 1.500 kalori per hari akan meningkatkan risiko turunnya suplai ASI ke bayi. Ibu menyusui juga perlu menjaga asupan cairan ekstra 500 mililiter di luar kebutuhan cairan orang dewasa (2.000 mililiter) dalam sehari.

e.    Faktor psikologis
Faktor psikis ibu pun memegang peranan yang penting dan sering terlupakan. Ibu yang baru melahirkan dan ibu menyusui mengalami perubahan besar baik dalam segi fisik, mental, dan emosional. Selain kebahagiaan yang memuncak, ibu juga mengalami kelelahan dan rasa nyeri akibat proses melahirkan atau kesulitan dalam menyusui. Dukungan suami dan keluarga besar, juga tenaga medis sangat membantu ibu untuk kembali pulih dengan baik.

Gangguan proses transfer ASI dari ibu ke bayi
a.    Prolaktin dan oksitosin
Produksi ASI seringkali dikaitkan dengan peran dua hormon, yakni prolaktin dan oksitosin. Prolaktin sebagai hormon yang dikenal dalam produksi ASI bekerja dengan baik dan dominan pada malam hari. Menyusui bayi secara rutin terutama di malam hari dapat meningkatkan produksi ASI. Sedangkan hormon oksitosin atau sering disebut dengan hormon cinta, membuat ASI keluar dengan lancar dari payudara ibu. Hal ini sering ditandai dengan let down reflex dan nyeri sesaat pada rahim ibu. 

b.    Frekuensi menyusui
Produksi ASI akan lebih banyak dan cepat keluar apabila ibu rutin menyusui bayi. Hal ini dimulai dari kontak kulit pertama bayi dengan ibu/skin to skin contact saat inisiasi menyusu dini, rutin menyusui bayi setiap 8-12 kali sehari, serta memerah ASI di luar waktu menyusui, baik memerah dengan tangan, menggunakan pompa ASI manual, maupun dengan pompa ASI elektrik. Semakin sering payudara ibu disusui oleh bayi, maka semakin banyak pula tubuh akan memproduksi ASI, sesuai kebutuhan bayi. Di sisi lain, jika ibu tidak rutin menyusui bayi atau memerah ASI, maka ASI akan menggumpal dan menimbulkan nyeri pada payudara. 

c.    Perlekatan bayi saat menyusui
Apabila proses perlekatan antara ibu dengan bayi (latch on) tidak baik, puting akan mudah lecet, nyeri, dan berdarah. Ini tentu mengganggu dalam proses menyusui, dan ASI akan sulit keluar. Ibu dapat memperbaiki kembali posisi menyusui bayi dengan lebih mendekap bayi, dada ibu bertemu dada bayi, dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar, serta bibir bayi melipat keluar (dower). Perhatikan gerakan bayi menelan ketika menyusui. Ibu juga dapat mengompres ringan payudara dengan kompres hangat sebelum menyusui, atau memijat payudara sebelum/pada saat menyusui bayi supaya ASI dapat keluar dengan lancar. 

Faktor penghambat produksi ASI dari bayi
a.    Bayi prematur
Bayi yang dilahirkan kurang bulan atau berat badan bayi yang kecil, mempunyai risiko untuk mengalami kesulitan menyusui. Bayi yang dilahirkan prematur mempunyai koordinasi menelan dan mengisap tidak sebaik bayi yang dilahirkan cukup bulan, terutama pada bayi-bayi prematur di bawah usia kehamilan 34 minggu. Jika bayi stabil, dokter dan konselor laktasi akan bersama-sama membantu ibu dalam pendampingan menyusui dan memberikan bayi ASI sejak saat pertama bayi lahir. 

b.    Bayi sakit
Bayi yang sakit juga dapat tampak malas menyusui dan banyak tertidur. Hal ini juga dapat menghambat produksi ASI karena bayi tidak mau menyusu pada ibu. Jangan lupa untuk selalu memeriksa popok bayi setiap 2-3 jam sekali, memastikan apakah bayi cukup berkemih dan mendapatkan cukup cairan dari ibu. Apabila si kecil sakit, segera periksakan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

c.    Kelainan fisiologis, misalnya tongue tie
Kondisi fisik bayi lainnya yang dapat menghambat produksi ASI adalah apabila bayi mempunyai kesulitan untuk menyusu langsung pada payudara akibat tali lidah yang pendek atau tongue tie. Bayi akan sulit untuk mengisap dengan baik, terdengar bunyi mengecap-ngecap saat menyusui, dan payudara seringkali terlepas saat menyusui. Tidak jarang hal ini membuat payudara ibu lecet dan luka serta menimbulkan frustasi pada ibu dan menghambat pengeluaran ASI. 

Angka kejadian tongue tie di dunia meningkat secara signifikan, karena sudah banyak tenaga kesehatan mulai dapat mengenali kondisi ini. Tidak semua bayi dengan tongue tie harus ditangani dengan tindakan insisi atau operasi pemotongan tali lidah. Hal ini dapat diperbaiki dengan berbagai teknik dan posisi menyusui. Ibu dapat menghubungi dokter spesialis anak atau konselor laktasi untuk mendapat bimbingan teknik dan posisi menyusui pada bayi dengan tongue tie. Pemotongan tali lidah hanya dilakukan oleh tenaga ahli pada kasus tongue tie yang berat.  

Semoga beberapa tips ini dapat membantu para ibu mengatasi berbagai hambatan yang ada dalam menyusui, sehingga proses menyusui menjadi lebih mudah dan nyaman. Si kecil pun mendapat nutrisi yang optimal dari ibu. Selamat menyusui! :)

dr. Fransiska Farah, Sp.A, M.Kes

Spesialis Anak Konselor Laktasi
RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

HEALTHY CORNER More Health Articles


Call Ambulance Call Ambulance
Find a Doctor Find a Doctor