Mengenal Lebih Dalam Demensia
06 March 2018

Indonesia saat ini termasuk negara dengan struktur populasi tua, karena memiliki proporsi penduduk lansia lebih dari tujuh persen. Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2017 diperkirakan sebesar 23,66 juta jiwa (9,03 persen dari seluruh penduduk Indonesia). Peningkatan populasi lansia akan berdampak pada perubahan pola penyakit di masyarakat. Salah satu gangguan kesehatan yang akan umum ditemui adalah penurunan fungsi kognitif. Bagaimana pencegahannya?

Apa itu fungsi kognitif?

Fungsi kognitif berperan sangat penting bagi manusia supaya mampu berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Fungsi kognitif merupakan aktivitas mental otak secara sadar yang melibatkan beberapa domain, yaitu:

  • Orientasi. Kemampuan mengenal atau mengidentifikasi waktu, tempat, dan orang.
  • Atensi. Kemampuan memperhatikan suatu stimulus dengan mengabaikan stimulus lain yang tidak diperlukan. Kemampuan mempertahankan atensi dalam waktu yang lebih lama disebut Konsentrasi.
  • Bahasa. Modalitas dasar untuk komunikasi dan membangun fungsi kognitif. Kemampuan bahasa meliputi parameter: kelancaran, pemahaman, pengulangan, dan penamaan.
  • Fungsi memori. Kemampuan melakukan proses penerimaan dan penyandian informasi, proses penyimpanan, serta proses mengingat. Fungsi memori dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu: memori segera (immediate memory), memori baru (recent memory), dan memori lama (remote memory).
  • Kemampuan visuospasial. Kemampuan konstruksional seperti menggambar atau meniru berbagai macam gambar dan menyusun bentuk.
  • Fungsi eksekutif. Proses kompleks dalam memecahkan masalah atau persoalan baru. Proses ini meliputi kesadaran terhadap keberadaan suatu masalah, mengevaluasi, menganalisis, serta memecahkan atau mencari jalan keluar.

Mengenal pra-demensia dan demensia/pikun

Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun.

Penurunan fungsi kognitif tingkat ringan yang tidak sampai mengganggu aktivitas hidup sehari-hari atau mengakibatkan perubahan perilaku, disebut sebagai mild cognitive impairment atau pra-demensia. Sedangkan penurunan fungsi kognitif intelektual yang cukup berat, sehingga mengganggu aktivitas sosial dan profesional yang tercermin dalam aktivitas hidup keseharian atau mengakibatkan perubahan perilaku, disebut sebagai demensia atau pikun.

Angka kejadian pra-demensia pada populasi penduduk lansia berkisar antara 7,7-42 persen. Penderita pra-demensia yang tidak mendapatkan penatalaksanaan memadai akan lebih mudah berkembang menjadi demensia dengan tingkat progresivitas antara 10-12 persen per tahun.

Angka kejadian demensia pada populasi penduduk lansia berkisar antara 5-7 persen, dan di beberapa negara dengan struktur populasi tua dapat mencapai 19 persen. Penderita demensia di Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan sekitar 1,2 juta jiwa. Jumlah ini pada tahun 2030 diperkirakan meningkat mencapai hampir 2 juta jiwa apabila tidak dilakukan penanganan dan pencegahan yang tepat.

Beberapa bentuk demensia yang sering ditemukan adalah:

  • Penyakit Alzheimer's - penyebabnya masih belum diketahui, namun beberapa kelainan genetik dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.
  • Demensia Vaskular - Gangguan pada pembuluh darah otak merupakan penyebab demensia tertinggi kedua. Kondisi ini juga dapat menyebabkan stroke dan penyakit lainnya yang berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah.
  • Demensia Lewy Body - Lewy body adalah penggumpalan protein abnormal pada otak, yang juga bisa ditemukan pada Alzheimer dan Parkinson.
  • Penyakit Parkinson
  • Demensia Frontotemporal - Sekelompok penyakit yang ditandai oleh degenerasi sel otak bagian frontal dan temporal, yang umumnya diasosiasikan dengan perilaku, kepribadian, hingga kemampuan berbahasa.

Sekitar 50-70 persen kasus demensia adalah penyakit Alzheimer's. Satu di antara sepuluh lansia usia kurang dari 65 tahun menderita penyakit ini.

Mendiagnosa pra-demensia atau demensia/pikun

Penurunan fungsi kognitif pada demensia umumnya terkait gangguan memori, terutama gangguan memori baru. Memori lama dapat terganggu pada demensia tahap lanjut. Penderita demensia biasanya mengalami disorientasi di sekitar rumah atau lingkungan yang relatif baru. Kemampuan membuat keputusan juga sering ditemukan terganggu.

Namun demikian, adanya gejala-gejala tersebut belum memastikan seseorang menderita pra-demensia, demensia/pikun, atau tidak. Perlu pemeriksaan pemeriksaan riwayat neurobehavior, pemeriksaan fisik neurologis, dan pola gangguan kognitif lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis pra-demensia atau demensia/pikun.

Pemeriksaan neurobehavior yang sering dilaksanakan adalah pemeriksaan CERAD, atau yang lebih sederhana seperti: MoCA-INA, MMSE, CDT, dan AD8. Saat ini beberapa pemeriksaan neurobehavior sederhana sudah tersedia dalam bentuk aplikasi di gadget, seperti Alzheimers MMSE dan QuoCo.

Berikut ini adalah contoh pemeriksaan AD8 untuk mendeteksi penurunan fungsi kognitif. Perhatikan hal-hal berikut: Dibandingkan periode satu tahun (atau beberapa tahun) yang lalu, apakah saat ini seseorang:

  • Sering bermasalah dalam membuat penilaian-penilaian (misal: membuat keputusan, perencanaan, logika berpikir)
  • Menjadi kurang tertarik dengan hobi atau aktivitas yang biasanya disenangi
  • Sering menanyakan atau bercerita hal yang sama berulang-ulang
  • Kesulitan sekali dalam mempelajari cara menggunakan peralatan atau gadget
  • Sering lupa bulan atau tahun
  • Kesulitan menangani urusan keuangan yang rumit (misal: membayar tagihan listrik, air, pajak)
  • Kesulitan mengingat janji bertemu dengan seseorang
  • Sering mendapatkan masalah akibat gangguan daya ingat atau salah mengkaji sesuatu
  • Apabila seseorang mengalami dua atau lebih hal-hal tersebut, maka orang tersebut terindikasi mengalami penurunan fungsi kognitif. Harus dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif lebih lanjut.

Mempertahankan fungsi kognitif sekarang dan nanti

Otak merupakan pengatur fungsi kognitif. Otak yang sehat akan menjaga fungsi kognitif tetap baik. Kesehatan otak dipengaruhi juga oleh kesehatan organ tubuh yang lain, seperti jantung, paru, dan pembuluh darah. Proses degeneratif ditentukan secara genetik, dan dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang sejak muda. Oleh karena itu, untuk menjaga otak tetap sehat perlu dibiasakan pola hidup sehat untuk otak yang dilakukan sejak muda sampai lansia.

  • Selalu berpikir positif,
  • Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah,
  • Olah raga yang cukup dan teratur (misal: jalan kaki selama 30 menit setiap hari; senam gerak latih otak),
  • Stimulasi kognitif untuk menjaga otak tetap berpikir aktif (ingat selalu semboyan: use it or lose it). Saat ini beberapa latihan stimulasi otak sederhana tersedia dalam bentuk aplikasi di gadget, seperti: Lumosity.
  • Menjaga pola makan sehat,
  • Aktif kegiatan sosial kemasyarakatan (misal: bersama-sama komunitas memikirkan solusi permasalahan kemasyarakatan di lingkungan sekitar),
  • Menghindari cedera kepala
  • Selalu mengelola stres dengan baik.

dr. Gea Pandhita, Sp. S, M.Kes

Dokter Spesialis Saraf

RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

Berita Terkini
Solusi Minimal Invasive Untuk Penanganan Masalah Kesehatan
Wajah Baru Women & Fetal Diagnostic Center Dan Klinik Anak RS Pondok Indah – Pondok Indah
Mom’s Gathering RS Pondok Indah Group
Deteksi Dini Skoliosis
Hindari Cedera Bahu Dan Kaki Akibat Olahraga

RS PONDOK INDAH GROUP - COMPLIMENTARY NEWBORN PHOTO SESSION BY BABY AXIOO

Peristiwa kelahiran sang buah hati tentunya adalah momen istimewa yang tak terlupakan. Abadikan kenangan terindah momen kelahiran si kecil bersama Baby Axioo. Dapatkan sesi foto dan merchandise cantik dari Baby Axioo, gratis untuk Anda yang melahirkan di semua rumah sakit RS Pondok Indah Group. Penawaran istimewa ini berlaku untuk Anda yang melah...

Vol 41